Artikel ini mengkaji neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok, menganalisis sejauh mana ketergantungan ekonomi telah terbentuk. Fokusnya adalah pada implikasi strategis dari defisit perdagangan yang persisten dan dominasi impor Tiongkok di sektor-sektor kunci, serta mempertanyakan keberlanjutan model ekonomi ini dalam jangka panjang bagi kedaulatan industri nasional.
Selama satu dekade terakhir, Tiongkok telah mengukuhkan posisinya sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Lonjakan nilai perdagangan dua arah memang membawa manfaat ekonomi, terutama dalam penyediaan barang modal dan bahan baku industri. Namun, struktur perdagangan ini sangat timpang; Indonesia primernya mengekspor komoditas mentah seperti batu bara dan nikel, sementara mengimpor barang manufaktur dan teknologi tinggi.
Ketergantungan ini memunculkan kerentanan yang signifikan. Fluktuasi kebijakan ekonomi domestik Tiongkok atau perlambatan ekonomi mereka dapat berdampak langsung pada penerimaan ekspor Indonesia. Di sisi lain, serbuan impor barang jadi mengancam daya saing industri manufaktur lokal, menciptakan “deindustrialisasi dini” di beberapa sektor yang tidak mampu bersaing dengan harga produk Tiongkok.
Pemerintah Indonesia menghadapi dilema: bagaimana cara menyeimbangkan manfaat jangka pendek dari investasi dan perdagangan dengan Tiongkok,
Hubungan dagang Indonesia dan Tiongkok telah mencapai volume tertinggi dalam sejarah, menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang nomor satu yang tak tergoyahkan. Aliran ekspor, terutama komoditas mentah dan produk setengah jadi, menopang neraca perdagangan. Namun, di balik angka-angka impresif ini, tersimpan kekhawatiran mendalam mengenai asimetri dan ketergantungan struktural.
Ketergantungan ini paling kentara dalam program hilirisasi nikel. Sebagian besar smelter didanai dan dioperasikan oleh investor Tiongkok, dengan produk akhir diekspor kembali ke sana. Walaupun menciptakan nilai tambah, model ini memicu perdebatan tentang siapa yang paling diuntungkan dan seberapa rentan Indonesia terhadap fluktuasi kebijakan ekonomi atau politik di Beijing.
Ke depan, Indonesia menghadapi dilema strategis. Di satu sisi, Tiongkok menawarkan modal dan teknologi cepat untuk industrialisasi. Di sisi lain, diversifikasi pasar dan pendalaman industri dalam negeri yang tidak hanya bergantung pada satu negara menjadi krusial untuk kedaulatan ekonomi jangka panjang.

