Tech Stack Unicorn

Tech Stack Unicorn

Artikel ini menyelami arsitektur teknis yang menopang operasional unicorn (startup bernilai >$1 Miliar) di Indonesia. Dari pemilihan microservices, bahasa pemrograman, database, hingga strategi cloud computing, kami membongkar “tech stack” yang memungkinkan mereka menangani jutaan transaksi per hari, tetap scalable, dan inovatif di pasar yang kompetitif.

Apa yang membuat aplikasi ride-hailing atau e-commerce raksasa bisa melayani jutaan pengguna secara bersamaan tanpa crash? Jawabannya terletak pada tech stack mereka. Banyak unicorn Indonesia telah bermigrasi dari arsitektur monolitik (satu aplikasi besar) ke microservices. Ini memungkinkan tim-tim kecil untuk mengembangkan, menerapkan, dan menskalakan layanan mereka secara independen, membuat inovasi lebih cepat.

Dalam hal bahasa pemrograman, kita melihat keragaman. Go (Golang) menjadi sangat populer karena kinerjanya yang tinggi untuk concurrency (menangani banyak hal sekaligus), ideal untuk backend. Sementara itu, Python tetap dominan untuk data science dan machine learning (seperti sistem rekomendasi), dan JavaScript (terutama React/Node.js) menguasai sisi frontend dan backend yang lincah.

Infrastruktur cloud adalah tulang punggung utamanya. Penggunaan multi-cloud (menggunakan AWS, GCP, dan Azure secara bersamaan) menjadi strategi umum untuk menghindari vendor lock-in dan mengoptimalkan biaya. Teknologi containerization seperti Kubernetes juga menjadi standar de-facto untuk mengelola ribuan microservices ini secara efisien. Memahami stack ini adalah memahami bagaimana “dapur” teknologi modern beroperasi.